DENYUT NADI DAN TEKANAN DARAH METODE PALPASI – AUSKULTASI
DENYUT NADI DAN TEKANAN DARAH
METODE PALPASI – AUSKULTASI
A. TUJUAN:
1. Mengukur denyut
nadi dan tekanan darah, agar dapat menentukan nilai denyut nadi dan tekanan
darah dalam keadaan fisiologik.
2. Mengukur denyut
nadi dan tekanan darah pada posisi duduk dan berbaring, agar dapat membedakan
nilainya pada posisi yang berbeda.
3. Menguraikan
berbagai faktor yang menyebabkan perbedaan denyut nadi dan tekanan darah, agar
dapat menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi denyut nadi dan tekanan darah
pada posisi yang berbeda
B. TEORI
Untuk memahami
faal sistem kardiovaskuler diperlukan lebih banyak waktu daripada hanya
mempelajarinya dalam satu periode praktikum. Namun demikian adalah mungkin untuk
mengamati beberapa fenomena sistem kardiovaskuler melalui suatu praktikum seperti
mendengarkan bunyi jantung (boleh dicoba pada praktikum ini), menentukan denyut
nadi, dan mengukur tekanan darah.
Pada jantung
sehat, kedua atrium berkontraksi secara simultan saat kedua atrium mulai lemas
(relaksasi), maka terjadi kontraksi ventrikel. Pada umumnya istilah sistol digunakan
untuk kontraksi ventrikel, sedangkan istilah distol digunakan untuk relaksasi ventrikel.
Selama kedua atrium dan ventrikel berkontraksi kemudian relaksasi, peristiwa
ini dikenal sebagai siklus jantung yang berlangsung pada satu denyut
jantung(beart beat) yang lengkap. Peristiwa ini ditandai oleh pergantian
perubahan volume darah dan tekanan di dalam jantung.
Pada topik ini
akan dipelajari cara mengukur denyut nadi dan tekanan darah.
1. Denyut Nadi-Pulse
Menurut Silverthom (2014), denyut nadi adalah tekanan
secara cepat yang terjadi ketika ventrikel kiri mendorong darah kedalam aorta yang
dapat dirasakan sebagai nadi. Menurut kamus kedokteran Dorland (2012), denyut
nadi adalah denyutan berirama pada pembuluh nadi yang dapat diraba. Sedangkan
Ethel (2003) menjelaskan bahwa denyut nadi adalah gelombang tekanan yang dapat
dirasakan di titik manapun pada arteri yang terletak dekat permukaan kulit.
Arteri yang biasa teraba adalah arteri radial pada pergelangan tangan.
Frekuensi denyut memberikan informasi mengenai kerja pembuluh darah, dan
sirkulasi.
Sementara menurut Ganong (2008), denyut nadi adalah
suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah dipompa keluar jantung. Pada
jantung manusia normal, tiap-tiap denyut berasal dari nodus sinoatrial yaitu
irama sinus normal. Semakin besar metabolisme dalam suatu organ, maka makin
besar aliran darahnya. Hal ini menyebabkan kompensasi jantung dengan
mempercepat denyutnya dan memperbesar banyaknya aliran darah yang dipompakan
dari jantung ke seluruh tubuh. Denyut nadi normal dapat dikategorikan sesuai
umur yaitu: dewasa 60-80 kali per menit, anak 80-100 kali per menit dan bayi
100-140 kali per menit (Ganong, 2008).
Dari uraian di
atar dapat disimpulkan bahwa denyut nadi dirujuk kepada perubahan gelombang
tekanan di dalam arteri setiap kontraksi dan relaksasi ventrikel kiri. Normal
dalam keadaan istirahat rata-rata nilai denyut nadi: dewasa 60-80 kali per menit, anak
80-100 kali per menit dan bayi 100-140 kali per menit yang sama dengan nilai rata-rata denyut jantung.
2. Tekanan Darah
Tekanan darah adalah daya yang dihasilkan darah
terhadap setiap satuan luas dinding
pembuluh. Tekanan darah hampir selalu dinyatakan dalam milimeter air raksa (mmHg)
karena manometer air raksa telah dipakai sejak lama sebagai rujukan baku untuk
pengukuran tekanan darah. Bila seseorang mengatakan tekanan dalam pembuluh
darah adalah 50 mmHg, hal itu berarti bahwa daya yang dihasilkan cukup untuk
mendorong kolom air raksa melawan gravitasi sampai setinggi 50 mmHg (Guyton dan
Hall, 2012).
Menurut The Seventh
Report Of The Joint National Committee On Prevention, Detection, Evaluation And
Treatment Of High Blood Pressure (2004), tekanan darah dibagi menjadi normal,
prehipertensi, hipertensi stage 1, dan hipertensi stage 2. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), tekanan darah dikategorikan
menjadi enam yaitu, optimal, normal, normal tinggi, hipertensi grade 1, hipertensi grade 2, hipertensi grade 3.
Jadi, tekanan
darah didefinisikan sebagai tekanan dari darah terhadap setiap unit area dinding
pembuluh darah. Secara bergantian, jantung berkontraksi dan relaksasi, sehingga
darah di dalam arteri mengalir secara ritmik pada setiap denyut jantung dan
menimbulkan tekanan darah. Pada pengukuran tekanan darah dicatat dua tekanan,
yaitu: tekanan sistolik yang menunjukkan tekanan darah di dalam arteri pada
puncak ejeksi ventrikel dan tekanan diastolik yang merupakan refleksi tekanan
darah selama relaksasi ventrikel. Satuan unit tekanan darah adalah: mmHg. Normal
dalam keadaan istirahat, tekanan darah orang dewasa muda: 120 mmHg dan tekanan
diastolik 80 mmHg. Tekanan darah ini bervariasi pada setiap orang antara lain
pada kelompok umur, keadaan (kerja otot), posisi tubuh.
Di klinik, pengukuran tekanan darah dimaksud untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan jantung dan sistem sirkulasi yang membantu untuk menegakkan diagnosis. Pada topik ini akan diukur denyut nadi dan tekanan darah secara tidak langsung pada keadaan berbaring dan duduk.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Spigmomanometer
2. Stetoskop
3. Jam tangan/Stopwacth praktikan
D. PROSEDUR PEMERIKSAAN DENYUT NADI & TEKANAN DARAH
Topik ini dilakukan dengan 2 orang naracoba dengan
jenis umur dan posisi yang berbeda kelamin.
1. Pengukuran Denyut Nadi Arteri Radialis
1) Berbaring terlentang dengan lengan sejajar jantung.
a. Naracoba
berbaring terlentang dalam keadaan istirahat dengan tenang selama 10 menit.
b. Peganglah
pergelangan tangan naracoba pada aspek lateral di bawah ibu jari dengan 2-3
jari pada jaringan yang bersangkutan, sehingga denyut nadi teraba di bawah
telunjuk atau jari tengah.
c. Dengan melihat
jam tangannya, operator mencatat jumlah denyut nadi ini per menit. Lakukan 3
kali berturut – turut dan rata-ratakan.
2) Duduk dengan lengan kanan bersudut 45 derajat
dengan dada.
a. Naracoba duduk dalam keadaan istirahat dengan
tenang selama 10 menit
b. Lakukan seperti pada butir a, b, dan c.
2. Pengukuran Tekanan Darah Arteri Brakhialis
1) Posisi Berbaring
a. Berbaring telentang dengan lengan sejajar jantung
b. Lengan naracoba tidak terlilit lengan baju
c. Sambil menunggu
istirahat 10 menit, pasanglah manset sligmomanometer pada lengan kanan atas
naracoba:
1. Pinggir bawah
manset 2-3 cm dari fosa kubiti dan sama tinggi dengan jantung (ruang sela iga
ke-4).
2. Manset pas
lengan (tidak menekan atau longgar)
3. Carilah dengan
palpasi denyut arteri brakhialis pada fosa kubiti dan denyut arteri radialis
pada pergelangan tangan kanan naracoba sampai teraba.
d. Manset dipompa
cepat sampai denyut nadi arteri radikalis tidak teraba dan tekanan pompa
dinaikkan 30 mmHg di atas tekanan sistolik.
e. Tekanan di
dalam manset diturunkan perlahan-lahan dengan kecepatan 2-3 mmHg per detik
secara halus dan tidak tersendatsendat
f. Selama
menurunkan tekanan manset, stetoskop diletakkan secara ringan dan rata pada
permukaan kulit di daerah arteri brakhialis fosa kubiti
g. Tepat saat
tekanan di dalam manset turun darah memancar melalui arteri di bawah manset
selama puncak tekanan sistolik. Pada saat ini tekanan melalui stetoskop
terdengar bunyi Korotkv di dalam arteri yang sinkron dengan bunyi jantung,
bunyinya keras yang sama dengan bunyi jantung I. Bunyi ini dicatat sebagai
tekanan sistolik.
h. Ketika tekanan
di dalam manset masih terus diturunkan, bunyi Krotkov meneruskan kualitasnya ke
suara yang meredup sampai tidak terdengar lagi yang sama dengan bunyi jantung
IV. Saat ini dicatat sebagai tekanan diastolik.
i. Pengukuran
dilakukan 3 kali selang waktu 2-3 menit dan dirataratakan.
2) Posisi Duduk
a. Tanpa
melepaskan manset, naracoba diminta untuk duduk dengan lengan tidak terjepit
atau terlilit lengan baju.
b. Setelah lewat 3
menit, ukurlah tekanan darah pada posisi duduk ini seperti langkah posisi
berbaring dari butir d sampai h.
DAFTAR PUSTAKA
Dorland. 2012. Terjemahan oleh: Mahode, AA. Kamus Saku
Kedokteran Dorland. Edisi 28. EGC. Jakarta, Indonesia. .
Ganong, W.F. 2008. Terjemahan oleh: Widjajakusumah,
HMD. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta, Indonesia.
Guyton, Arthur. C, Hall, John. E. 2012. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Terjemahan oleh: Irawati dkk. EGC. Jakarta, Indonesia.
Koesoemah, H.A.
dan Dwiastuti, S.A. 2017. Histologi dan Anatomi Fisiologi Manusia. Pusat
Pendidikan SDM Kesehatan. Kemenkes. Jakarta.
Silverthom, D. U. 2014. Terjemahan oleh:
Octavianus, Herman. Fisiologi Manusia: Sebuah Pendekatan Terintegrasi. EGC.
Jakarta, Indonesia.
World Health Organization. 1999. Hypertension
Guidelines: Guidelines for The Management of Hypertension. WHO Media centre, (http://www.who.int,
di akses 20
Agustus 2015).
Comments
Post a Comment
Jangan yang spam ya