Pemeliharaan dan Perawatan Peralatan Laboratorium

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN PERALATAN

LABORATORIUM PERGURUAN TINGGI

 

Oleh:

Muhsin, M.Pd.

Laboratorium Biologi FKIP Universitas Mataram

Email: muhsinchin@yahoo.com

 

ABSTRAK

 Laboratorium adalah tempat untuk melaksanakan kegiatan praktik yang mendukung pembelajaran di kelas. Agar bekerja di laboratorium merasa aman dan nyaman maka laboratorium berikut sarana lainnya perlu dikelola dan dirawat secara rutin, sehingga dapat berfungsi optimal sebagai sumber belajar di Perguruan Tinggi. Kegiatan-kegiatan yang yang dapat dilakukan untuk pemeliharaan peralatan laboratorium di perguruan tinggi, antara lain:  inspeksi, kegiatan teknik kegiatan produksi, dan kegiatan administrasi. Faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain sistem pemeliharaan peralatan, antara lain ruang lingkup pekerjaan, lokasi pekerjaan, prioritas pekerjaan, metode yang digunakan, kebutuhan material, kebutuhan keahlian, kebutuhan tenaga kerja. Cara atau metode untuk melakukan pekerjaan perawatan peralatan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain dengan cara: melakukan pencegahan, dengan memberi peringatan melalui gambar atau tulisan, peraturan, tata tertib bagi pengguna laboratorium, dan memberi bahan pengawet, menyimpan peralatan laboratorium agar terhindar dari kerusakan,  membersihkan, agar peralatan laboratorium selalu bersih, melumasi peralatan mekanis, memeriksa atau mengecek kondisi peralatan, memperbaiki kerusakan pada peralatan laboratorium, dan mengganti komponen-komponen peralatan yang sudah rusak.

Kata kunci: Pemeliharaan dan Perawatan peralatan, Laboratorium Perguruan Tinggi

 

PENDAHULUAN

Laboratorium adalah tempat untuk melaksanakan kegiatan praktik yang mendukung pembelajaran di kelas. Agar bekerja di laboratorium merasa aman dan nyaman maka laboratorium berikut sarana lainnya perlu dikelola dan dirawat secara rutin, sehingga dapat berfungsi optimal sebagai sumber belajar di Perguruan Tinggi.

Pengelolaan laboratorium di perguruan tinggi berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, dan bahan kimia,), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium untuk menjaga keberlanjutan fungsinya. Pada dasarnya pengelolaan laboratorium di perguruan tinggi merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk menata, memelihara, dan mengusahakan pemeliharaan fasilitas laboratorium khususnya peralatan laboratorium di perguruan tinggi. Mengatur dan memelihara peralatan laboratorium merupakan upaya agar peralatan laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Pentingnya peralatan laboratorium di perguruan tinggi dalam kegiatan praktik untuk mendukung peningkatan mutu mahasiswa tidak dapat diabaikan begitu saja. Beberapa permasalahan yang muncul di laboratorium adalah peralatan laboratorium tidak mencukupi jumlahnya dan atau karena kondisinya yang tidak layak pakai (rusak). Hal tersebut dapat menghambat dan mengganggu kegiatan praktikum di laboratorium. Kerusakan peralatan dapat disebabkan oleh kualitas alat yang rendah atau karena kesalahan pemakaian, dan rendahnya tingkat perawatan peralatan laboratorium.

Rendahnya tingkat perawatan peralatan laboratorium dapat menyebabkan kerusakan alat lebih cepat, yang berdampak kurang baik pada efisiensi keuangan, keamanan dan keselamatan kerja serta semangat kerja di laboratorium. Dengan demikian. pengelola dan laboran hendaknya memprogramkan secara periodik perawatan alat-alat dan bahan tertentu dan secara rutin melakukan perawatan prasarana laboratorium. Untuk melakukan pemeliharaan dan perawatan prasarana laboratorium, khususnya peralatan laboratorium, diperlukan beberapa prasyarat pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan peralatan laboratorium tersebut.

Pemakaian peralatan laboratoroium secara terus menerus tentunya harus dibarengi dengan pelaksanaan perawatan/pemeliharaan yang baik. Dengan pemeliharaan yang baik terhadap peralatan laboratorium dapat memperpanjang umur ekonomis alat, mempertahankan keandalan peralatan serta mutu hasil pekerjaan dapat dipertahankan

Usaha untuk dapat menggunakan terus peralatan laboratorium agar dapat terjamin, maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang meliputi kegiatan pengecekan, lubrication dan perbaikan atas kerusakan yang ada pada peralatan tersebut. Kegiatan perawatan dan perbaikan peralatan di laboratorium harus dilakukan oleh tenaga teknis perawatan dan perbaikan peralatan, meliputi peralatan mekanik, elektrik dan instrumentasi. Kegiatan pemeliharaan yang dapat dilakukan diantaranya: perawatan preventif, perawatan kuratif, pengelolaan gudang suku cadang.

Perawatan preventif adalah kegiatan perawatan peralatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan tak terduga dan menemukan secara dini kondisi atau keadaan tertentu yang dapat menyebabkan peralatan mengalami  kerusakan pada waktu digunakan. Sedangkan perawatan kuratif adalah kegiatan perbaikan peralatan yang dilakukan setelah terjadinya suatu kerusakan atau kelainan pada peralatan, hal ini sering disebut sebagai kegiatan reparasi. Sedangkan pengoperasian bengkel dan pengelolaan gudang suku cadang merupakan sarana pendukung dalam perawatan dan perbaikan peralatan laboratorium biologi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperbaiki peralatan, unit atau sistem yang telah mengalami kegagalan fungsi operasi dan juga mencegah kegagalan pengoperasian peralatan lain yang dimiliki laboratorium, sehingga operasional laboratorium dapat dilaksanakan sesuai target.

Selanjutnya agar setiap peralatan laboratorium di perguruan tinggi dapat dipertahankan kinerja optimalnya, maka perlu dilakukan pemeliharaan dan perawatan dengan baik dan berkesinambungan. Pemeliharaan yang baik terhadap peralatan laboratorium akan dapat menjaga kelaikan peralatan dan senantiasa berfungsi optimal untuk jangka waktu yang lama.

Pemantauan dan evaluasi peralatan dilakukan dengan tujuan agar fungsi optimal senantiasa diketahui setiap saat sebelum peralatan tersebut digunakan. Penting untuk senantiasa melakukan kalibrasi peralatan laboratorium secara rutin dan berkala, mendokumentasikan serta mengevaluasinya secara berkesinambungan, sehingga peralatan memiliki masa guna yang lama.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merasa perlu untuk melakukan kajian secara teoritis terhadap permasalahan “Pemeliharaan dan Perbaikan Peralatan Laboratorium Perguruan Tinggi”. Kajian ini dimaksudkan untuk membahas: kegiatan-kegiatan yang yang dapat dilakukan untuk pemeliharaan peralatan laboratorium di perguruan tinggi, faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pemeliharaan peralatan, dan prosedur perawatan peralatan laboratorium di perguruan tinggi.

PEMBAHASAN

1. Pemeliharaan Peralatan Laboratorium

Pemeliharaan ialah suatu tindakan yang dilakukan pada sebuah alat ataupun produk supaya alat atau produk tersebut tak mengalami kerusakan, tindakan tersebut meliputi penyetelan, pelumasan, pemeriksaan pelumas, serta mengganti spare part yang sudah tak layak pakai.  Agar peralatan dapat bertahan lama dan memiliki produktifitas yang tinggi maka diperlukan pemeliharaan yang baik.  Pemeliharaan adalah hal yang dilakukan secara rutin untuk menjaga peralatan atau komponen mesin yang terus menerus bekerja atau digunakan agar didapat produktifitas yang maksimal. 

Maintenance dapat diartikan sebagai kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka penulis dapat mengartikan bahwa pemeliharaan adalah: (1). kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memelihara peralatannya agar selalu berada dalam kondisi siap pakai, dan (2) kegiatan pemeliharaan tersebut berada dalam sistem aturan kerja dan dapat berupa pemeliharaan pencegahan sebelum terjadi kerusakan ataupun penggantian bagian dari peralatan yang rusak.

1.1. Tujuan pemeliharaan

Tujuan pemeliharaan bukan hanya untuk menjaga kondisi mesin dan peralatan semata. Pemeliharaan juga bertujuan untuk menjaga kemampuan produksi agar dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi. Untuk lebih lengkapnya berikut tujuan fungsi pemeliharaan menurut beberapa ahli.

Tujuan utama fungsi pemeliharaan adalah: (1) kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi, (2)  menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu, (3) untuk membantu mengurangi penyimpangan yang terjadi di luar batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan mengenai investasi tersebut, (4) untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin,dengan melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien keseluruhannya, (5) menghindari kegiatan maintenance yang dapat membahayakan keselamatan para pekerja, (6) mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama lainnya dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan,yaitu tingkat keuntungan atau return of invesment yang sebaik mungkin dan total biaya yang rendah.

Tujuan lainnya dari program pemeliharaan adalah: (1) melaksanakan rencana kerja pemeliharaan meliputi: membagi kegiatan kegiatan perawatan mesin pada jenjang operasi organisasi dalam satu tahun atau dalam satu periode tertentu, menyelenggarakan keseimbangan antara kegiatan perawatan dengan menyeluruh kegiatan operasi dan proses produksi, (2) merencanakan kegiatan pemeliharaan mesin pada berbagai kegiatan produksi untuk saat ini maupun yang akan datang. Penyajian menyeluruh yang rinci dari kegiatan pemeliharaan sejak awal sampai dengan pasca proses produksi dapat digunakan untuk mendesain perencanaan kegiatan pemeliharaan mesin per minggu bahkan, per hari.

Jadi, tujuan utama pemeliharaan secara umum adalah untuk menjaga dan merawat fasilitas atau peralatan serta mengadakan perbaikan dan penggantian komponen agar peralatan dan fasilitas dapat berjalan sesuai apa yang telah direncanakan dan tidak mengalam kerusakan. Sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar dan biaya pemeliharaan dapat dikendalikan seefisien mungkin agar tidak menimbulkan anggaran yang besar.

1.2. Kegiatan-Kegiatan Pemeliharaan

Peranan pemeliharaan tidak hanya untuk menjaga perusahaan tetap dapat bekerja secara optimal, sehingga pesanan dari pelanggan dapat terpenuhi sesuai dengan jadwal, tetapi juga untuk menjaga agar perusahaan dapat bekerja secara efisien dengan menekan atau mengurangi kemacetan-kemacetan menjadi sekecil mungkin.

Berbagai kegiatan sebagai berikut: (1) Inspeksi (inspection), kegiatan inspeksi meliputi kegiatan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala dimana maksud kegiatan inspeksi ini adalah untuk mengetahui apakah perusahaan selalu mempunyai peralatan atau fasilitan produksi yang baik untuk menjamin kelancaran proses produksi. Sehingga jika seandainya terjadi kerusakan, maka dapat segera diadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan sesuai dengan laporan hasil inspeksi, dan berusaha untuk mencegah sebab-sebab timbulnya kerusakan dengan melihat sebab-sebab kerusakan yang di peroleh dari hasil inspeksi. Oleh karena itu, hasil laporan inspeksi haruslah memuat keadaan peralatan yang di inspeksi, sebab-sebab terjadinya kerusakan bila ada, usaha-usaha penyesuaian atau perbaikan kecil yang telah dilakukan dan saran-saran atau usul-usul perbaikan atau penggantian yang diperlukan (2) Kegiatan teknik (engineering), kegiatan teknik meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli, dan kegiatan-kegiatan pengembangan peralatan atau kompnen peralatan yang perlu diganti, serta melakukan penelitian-penelitian terhadap kemungkinan pengembangan tersebut. Dalam kegiatan inilah dilihat kemampuan untuk mengadakan perubahan-perubahan dan perbaika-perbaikan bagi perluasan dan kemajuan dari fasilitas atau peralatan perusahaan. Oleh karena itu kegiatan teknik ini sangan diperlukan terutama apabila dalam perbaikan mesin-yang rusak tidak didapatkan atau diperoleh komponen yang sama dengan yang dibutuhkan, (3) Kegiatan produksi (production), kegiatan produksi ini merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya, yaitu memperbaiki dan meresparasi mesin-mesin dan peralatan. Secara fisik, melaksanakan pekerjaan yang disarankan atau yang diusulkan dalam kegiatan inspeksi dan teknik, melaksanakan kegiatan service dan perminyakan. Kegiatan produksi ini dimaksudkan agar kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana, dan utnuk itu diperlukan usaha-usaha perbaikan segera jika kerusakan pada peralatan, (4) Kegiatan administrasi, pekerjaan administrasi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan-pencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan perkerjaan-pekerjaan pemeliharaan dan biaya-biaya yang berhubungan dengan kegiatan pemeliharaan, komponen yang dibutuhkan, laporan kemajuan tentang apa yang telah dikerjakan, waktu dilakukannya inspeksi dan perbaikan, serta lamanya perbaikannya tersebut, dan komponen yang tersedia di bagian pemeliharaan. Jadi dalam pencatatan ini termasuk penyusunan planing dan scheduling, yaitu rencana kapan suatu mesin harus di cek atau di periksa, di minyaki atau di service dan di reparasi.

Dalam kegiatan pemeliharaan yang andal banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain pengadaan, pemakaian dan pemeliharaan fasilitas, yang didukung oleh organisasi pengelolaan dan mekanisme kerja pemeliharaan. Maka kegiatan pemeliharaan peralatan adalah suatu lingkaran tertutup dalam suatu siklus edaran kegiatan. Dimana satu sama lain merupakan unsur-unsur kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Jadi, setiap pengadaan peralatan harus diprogramkan dalam pemakaiannya tentang pemeliharaan (perawatan dan perbaikan). Dimana dalam pemeliharaan rutin mesin harus tersedia dana, suku cadang peralatan dan tenaga pelaksana. Di samping itu, faktor cara pemakaian akan sangat berpengaruh kepada tindakan pemeliharaan terhadap mesin tersebut.

Adapun kegiatan-kegiatan pemeliharaan peralatan, meliputi:

a. Pemeliharaan terprogram

Suatu kegiatan pemeliharaan yang diprogramkan dan merupakan salah satu kegiatan institusi yang dilakukan dengan pemikiran berorientasi ke masa depan, pengendalian dan pendataan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Termasuk didalamnya adalah: pemeliharaan pencegahan, dan pemeliharaan perbaikan (Mutadi, 2009).

Suatu kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan secara terencana dan periodik dalam bentuk penjadwalan (time schedule), tujuannya untuk mengurangi kemungkinan kerusakan, gangguan dan menjaga fasilitas dalam kondisi standar. Kegiatan pencegahan ini ada yang harus dilakukan harian seperti mencatat suhu mesin-mesin yang berputar, kegiatan mingguan seperti pemantauan tereminasi sambungan kabel pada peralatan listrik, kegiatan bulanan seperti mengganti mengganti minyak trafo atau mesin-mesin yang berputar serta kegiatan pencegahan tahunan seperti diantaranya melakukan pengecatan pada peralatan yang ada.

Suatu kegiatan pemeliharaan membawa fasilitas ke kondisi standar semula melalui perbaikan dari keadaan rusak sebelumnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam pemeliharaan terprogram maupun pemeliharaan tak terprogram. Contoh kegiatan pemeliharaan perbaikan terprogram adalah kegiatan minor/mayor maintenance, yaitu kegiatan perbaikan yang bersifat kecil/besar namun hal ini sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat yang tercantum dalam manual instruction (petunjuk pabrik) untuk operasional peralatan tersebut

b.  Pemeliharaan tak terprogram

        Suatu kegiatan pemeliharaan akibat terjadinya kerusakan diluar perencanaan atau di luar dugaan, dan tidak termasuk dalam anggaran biaya. Yang termasuk dalam pemeliharaan tak terprogram umumnya adalah pemeliharaan darurat, seperti  kerusakan mesin yang tiba-tiba pada saat kegiatan produksi berlangsung, maka  mesin yang rusak tersebut harus segera diperbaiki untuk menghindari kerugiaan yang lebih besar karena berhentinya produksi.

Dalam keberhasilan pelaksanaan pemeliharaan diukur berdasarkan sedikitnya frekuensi dan lama waktu time down (fasilitas tidak berfungsi). Jadi down time peralatan karena kerusakan harus dihindarkan sedapat mungkin, melalui pemeliharaan perawatan (preventive) yang terprogram.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan yang sering dilakukan di laboratorium dalam rangka melakukan perawatan peralatan yang dimilikinya, antara lain:

1). Sistem pemeliharaan sesudah rusak.

Tujuan pemakaian metode ini adalah untuk mendapatkan penghematan waktu dan biaya dan perbaikan dilakukan pada keadaan yang benar-benar perlu. Pada pemeliharaan sistem ini pekerja-pekerja pemeliharaan hanya akan bekerja setelah terjadi kerusakan pada mesin atau peralatan. Jika kita memakai sistim ini kerusakan mesin atau equipment akan terjadi berkali-kali dan frekuensi kerusakannya hampir sama saja setiap tahunnya. Artinya beberapa mesin atau equipment pada pabrik tersebut ada yang sering diperbaiki. Pada pabrik yang beroperasi secara terus menerus, dianjurkan untuk menyediakan cadangan mesin (stand by machine) bagi mesin-mesin yang vital. Sebagai tambahan, sistim ini untuk pembongkaran mesin-mesin pabrik tahunan tidak dipakai karena pada saat dilakukannya penyetelan dan perbaikan mesin, unit-unit mesin cadanganlah yang dipakai.

2). Sistem Pemeliharaan Rutin

Tipe pemeliharaan rutin ini dibuat dengan mempertimbangkan ketersediaan tenaga kerja, suku cadang, bahan untuk perbaikan dan faktor-faktor lainnya. Biaya perbaikan dan lamanya mesin/peralatan tidak beroperasi dapat diminimalkan dibandingkan dengan perbaikan peralatan yang sama tetapi dilakukan setelah peralatan itu rusak total. Sistem pemeliharaan peralatan meliputi rencana inspeksi dan perbaikan secara periodik. Biaya pembuatan atau modal awal dapat dikurangi bila bagian pemeliharaan dapat memberikan informasi-informasi yang baik tentang masalah-masalah servis peralatan, pemasangan unit-unit cadangan dapat dibuat optimal. Selanjutnya dilakukan standarisasi jenis mesin dan suplier dan juga meningkatkan mutu barang tanpa menambah biaya hingga modal dapat dihemat dan juga biaya-biaya pemeliharaan selanjutnya.

3). Sistem Pemeliharaan Ulang

Hal yang dilakukan dalam kegiatan pemeliharaan ulang umumnya terjadi pada peralatan atau mesin yang telah lama beroperasi, misalnya setelah beberapa tahun pemeliharaan rutin dilaksanakan di pabrik, dari data inspeksi yang telah dilakukan akan diketahui umur serta biaya dari masing-masing peralatan, kemudian dapat ditentukan prioritas unit yang harus segera diperbaiki. Ini akan menjadikan  prosedur perbaikan yang baik untuk dapat meminimalkan waktu yang dipakai untuk pekerjaan pemeliharaan rutin. Umumnya jika proses pemeliharaan ulang telah berjalan baik, maka tidak diperlukan mesin atau peralatan cadangan karena kondisi masing-masing mesin/peralatan sudah lebih terjamin.

4). Sistem Pemeliharaan Prediktif

Dari beberapa sistem pemeliharaan yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa makin tinggi efisiensi makin tinggi pula keuntungan yang akan diperoleh, maka bila efisiensi yang tinggi tersebut belum memberi keuntungan yang diinginkan, maka perlu dipikirkan konsep baru yang lain. Dewasa ini pola pemeliharaan prediktif dianggap lebih efektif dan efisien jika jam operasi pada peralatan tersebut masih dalam petunjuk pabrikan, jika jam operasi sudah terpenuhi maka peralatan harus diganti. Jika pergantian peralatan yang jam operasinya telah terpenuhi tidak dilakukan, dikhawatirkan kerusakan yang lebih parah akan terjadi dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.

1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Pemeliharaan Peralatan

Faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain sistem pemeliharaan peralatan, antara lain ruang lingkup pekerjaan, lokasi pekerjaan, prioritas pekerjaan, metode yang digunakan, kebutuhan material, kebutuhan keahlian, kebutuhan tenaga kerja (Muhtadi, 2009).

Untuk tindakan yang tepat, pekerjaan yang dilakukan perlu diberi petunjuk atau pengarahan yang lengkap dan jelas. Pengadaan gambar-gambar atau skema dapat membantu dalam melakukan pekerjaan. Faktor lain yang dapat mempengaruhi sistem pemeliharaan peralatan adalah lokasi pekerjaan yang tepat dimana tugas dilakukan, merupakan informasi yang mempercepat pelaksanaan pekerjaan. Penunjukan lokasi akan mudah dengan memberi kode tertentu, misalnya nomor gedung, nomor departemen dan sebagainya. Prioritas pekerjaan, prioritas pekerjaan harus dikontrol sehingga pekerjaan dilakukan sesuai dengan urutan yang benar. Jika suatu peralatan mempunyai peranan penting, maka perlu memberi peralatan tersebut prioritas utama.

2. Perawatan Peralatan Laboratorium

2.1. Pengertian Perawatan

Perawatan adalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan dengan sadar untuk menjaga agar suatu alat selalu dalam keadaan siap pakai, atau tindakan melakukan perbaikan sampai pada kondisi alat dapat berfungsi kembali. Perawatan (maintenance) merupakan suatu aktivitas yang dilakukan agar peralatan atau item dapat dijalankan sesuai standard performansi semula. Perawatan (maintenance) sebagai suatu tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu hasil yang dapat mengembalikan item atau mempertahankan item pada kondisi yang selalu dapat berfungsi (Prasetya, 2017). Sedangkan menurut Aldila (2008) bahwa perawatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan, mempertahankan, dan mengembalikan peralatan dalam kondisi yang baik dan siap pakai.

Usaha terus menggunakan peralatan laboratorium di peguruan tinggi agar hasil pengukuran akurat dan terjamin, maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan perawatan yang meliputi kegiatan pengecekan, meminyaki dan perbaikan/reparasi atas kerusakan-kerusakan yang ada serta penyesuaian atau penggantian komponen yang terdapat pada peralatan tersebut.

Dalam kaitannya dengan perawatan peralatan laboratorium, perawatan dimaksudkan sebagai usaha preventif atau pencegahan agar peralatan tidak rusak atau tetap terjaga dalam kondisi baik, siap beroperasi. Disamping itu perawatan juga dimaksudkan sebagai upaya untuk menyetel atau memperbaiki kembali peralatan laboratorium yang sudah terlanjur rusak atau kurang layak sehingga siap digunakan untuk kegiatan praktikum.

Tujuan utama dari dilakukannya sistem manajemen perawatan adalah sebagai berikut : (1). memperpanjang usia pakai fasilitas produksi, (2). menjamin tingkat ketersediaan yang optimum dari fasilitas produksi, (3). menjamin kesiapan operasional seluruh fasilitas yang diperlukan untuk pemakaian darurat, dan (4). menjamin keselamatan operator dan pemakai fasilitas. (Prasetya, 2017).

Perawatan peralatan laboratorium memiliki beberapa tujuan yang mencakup: (1) peralatan laboratorium selalu prima, dan siap pakai secara optimal, (2) memperpanjang umur pemakaian peralatan laboratorium, (3) menjamin keamanan, keselamatan dan kenyamanan orang atau siswa yang menggunakan peralatan tersebut, (4) menjamin kesiapan operasional peralatan yang diperlukan terutama dalam keadaan darurat, (4) menjamin kelancaran kegiatan pembelajaran, (5) mengetahui kerusakan secara dini atau gejala kerusakan, (6) menghindari terjadinya kerusakan secara mendadak, dan (7) menghindari terjadinya kerusakan fatal.

2.2. Jenis Perawatan

Pada umumnya perawatan di bagi atas dua bagian, yaitu perawatan terencana dan perawatan tak terencana. Perawatan terencana (planned maintenance) didefinisikan sebagai proses perawatan yang diatur dan diorganisasikan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi terhadap peralatan di waktu yang akan datang. Di dalam perawatan terencana, terdapat unsur pengendalian dan unsur pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Perawatan terencana adalah sistem pengorganisasian perawatan atau program perawatan yang dikelola dengan cara yang efektif. Perawatan terencana merupakan bagian dari sistem manajemen perawatan yang terdiri atas perawatan preventif (preventive maintenance), perawatan prediktif (predictive maintenance), dan perawatan korektif (corrective maintenance).

Semua pekerjaan yang masuk dalam lingkup perawatan preventif, dilakukan secara rutin dengan berdasarkan pada hasil kinerja alat yang diperoleh dari pekerjaan perawatan prediktif atau adanya anjuran dari pabrik alat tersebut. Apabila perawatan preventif dikelola dengan baik, maka akan dapat memberikan informasi tentang kapan mesin atau alat akan ‘turun mesin’ dan harus diganti sebagian besar komponennya.

Perawatan preventif meliputi pemeriksaan tegangan dan pengukuran arus listrik pada peralatan elektrik, pemeriksaan otomatisasi seperti Genset, Boiller, Demin Water, Service Water, Kompresor, Chiller dan UPS, serta berbagai panel distribusi/kontrol termasuk penggantian komponen elektrik bila perlu.  Pada peralatan elektronik berupa pemeriksaan terhadap instrumentasi kontrol dan unit elektronik pada panel kontrol serta kalibrasi instrumentasi kontrol, juga pemeriksaan peralatan komunikasi intern dan penggantian komponen elektronik bila perlu (Sumatono, 2012)

Perawatan preventif juga meliputi pemeriksaan minyak pelumas, pemeriksaan kondisi bearing, pengukuran getaran, pemeriksaan kondisi v-belt, pengukuran putaran, pengecekan kebocoran, pengukuran laju alir, pelurusan poros (alignment), pengukuran temperatur serta penggantian komponen-komponen mekanik bila diperlukan. 

Perawatan korektif merupakan perawatan yang bersifat koreksi, yakni sistem perawatan peralatan laboratorium yang secara sadar dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta monitoring dengan tujuan untuk mengembalikan peralatan laboratorium pada kondisi standar, sehingga dapat berfungsi normal.

Sedangkan perawatan kuratif adalah berupa perbaikan peralatan instrumentasi, elektrik dan mekanik yang dilakukan manakala peralatan telah mengalami gangguan unjuk kerja dan atau kerusakan sebagaimana dilaporkan oleh operator/penanggung jawab peralatan (Sumartono, 2012).

Perawatan dan atau perbaikan peralatan dapat dilakukan oleh pihak ketiga apabila dipandang perlu dan mendapatkan persetujuan pembiayaan melalui rencana kegiatan pada tahun anggaran sebelumnya. Keterlibatan staf perawatan dan perbaikan peralatan dalam kegiatan tersebut sebagai supervisor.

2.3. Cara Melakukan Perawatan

Perawatan pada umumnya dilakukan dengan dua cara: (1) perawatan setelah terjadi kerusakan (breakdown maintenance), dan (2) perawatan preventif (preventive maintenance).

Perbaikan dilakukan pada mesin ketika mesinnya telah mengalami kerusakan. Kerusakan pada mesin disebabkan antara lain karena: (1) proses kerusakan komponen yang tidak dapat diperkirakan dan tidak dpat dicegah, dan (2) kerusakan yang terjadi berangsur-angsur dan berkurangnya kekuatan komponen karena pemakaian/keausan. Kejadian ini dapat diatasi dengan adanya inspeksi yang teratur dan mengetahui cara pencegahannya.

Dalam penanganan perawatan ini, perbaikan dilakukan ketida mesin sedang tidak berfungsi dan departemen menyetuji adanya perbaikan mesin tersebut. Cara perawatan ini memakan biaya yang lebih tinggi karena adanya biaya tambahan, membayar operator produksi yang menganggu, kemungkinan membayar lembur bagi tenaga perawatan yang melakukan kerja perbaikan. Perawatan ini merupakan perawatan yang tidak direncanakan.

Perawatan dilakukan dengan jadwal yang teratur, sehingga kadang-kadang disebut sebagai ”perawatan yang direncanakan” atau ”perawatan yang dijadwal”. Fungsi penting dari cara perawatan jenis ini adalah menjaga kondisi operasional peralatan serta meningkatkan kehandalannya. Tujuannya adalah menghilangkan penyebab-penyebab kerusakan sebelum kerusakan terjadi. Perawatan yang terjadwal selalu lebih ekonomis daripada perawatan yang tidak terjadwal.

Pekerjaan perawatan preventif ini dilakukan dengan mengadakan inspeksi, pelumasan dan pengecekan peralatan seteliti mungkin. Frekuensi inspeksi ditetapkan menurut tingkat kepentingan mesin, tingkat kerusakan dan kelemahan mesin. Inspeksi berkala ini sangat membantu pengecekan untuk menemui penyebab-penyebab yang menimbulkan kerusakan, dan juga untuk mempermudah usaha perbaikannya melalui tahapan-tahapannya.

Perawatan prefentif mempunyai tujuan sebagai berikut: (1) untuk mencapai tingkat kesiapan industri yang maksimum dengan mencegah kerusakan dan mengurangi periode waktu perbaikan menjadi seminimum mungkin, (2) menjaga kondisi mesin sebaik mungkin untuk mempertahankan produk yang berkualitas tinggi, (3) memperkecil tingkat kerusakan dan menjaga nama baik industri, (4) menjamin keselamatan pekerja, (5) menjaga industri pada tingkat efisiensi produksi yang maksimum, dan (6) mencapai esmua tujuan tersebut dengan cara yang sangat ekonomis.

2.4. Pekerjaan-pekerjaan Dasar pada Perawatan Preventif

Pekerjaan-pekerjaan dasar pada perawatan preventif adalah: inspeksi, pelumasan, perencanaan dan penjadwalan, pencatatan dan analisis, latihan bagi tenaga perawatan, serta penyimpanan suku cadang.

a. Inspeksi

Pekerjaan inspeksi dibagi atas inspeksi bagian luar dan inspeksi bagian dalam. Inspeksi bagian luar dapat ditujukan untuk mengamati dan mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada mesin yang sedang beroperasi, misalnya: timbul suara yang tidak normal, getaran, panas, asap dan lain-lain. Sedangkan inspeksi bagian dalam ditujukan untuk pemeriksaan elemen-elemen mesin yang dipasang pada bagian dalam seperti: roda gigi, ring, paking, bantalan dan lain-lain.

Frekuensi inspeksi perlu ditentukan secara sangat hati-hati, karena terlalu kurangnya inspeksi dapat menyebabkan mesin kerusakan yang sulit untuk diperbaiki dengan segera. Sedangkan terlalu sering diadakan inspeksi dapat menyebabkan mesin kehilangan waktu produktivitasnya. Dengan demikian frekuensi pelaksanaan inspeksi harus benar-benar ditentukan berdasarkan pengalaman, dan jadwal program untuk inspeksi perlu dipertimbangkan dengan matang.

Untuk inspeksi peralatan dapat dikategorikan menjadi dua macam: (1) kategori peralatan yang penting, dan (2) kategori mesin biasa. Peralatan dalam kelompok penting sangat besar pengaruhnya terhadap jalannya layanan praktik maupun penelitian secara keseluruhan, sedikit saja terjadi gangguan akan memerlukan waktu yang lama untuk memperbaikinya. Untuk itu perlu diberikan penekanan yang lebih kepada inspeksi peralatan tersebut. Sedangkan Kategori peralatan biasa, frekuensi inspeksi untuk kelompok ini tidak terlalu berpengaruh terhadap jalannya layanan praktik maupun penelitian.

b. Pelumasan

Dalam pemberian pelumas yang benar perlu diperhatikan jenis pelumasnya, jumlah pelumas, bagian yang diberi pelumas dan waktu pemberian pelumasnya ini.

c. Perencanaan dan Penjadwalan

Suatu jadwal program perawatan perlu disiapkan dan harus ditaati dengan baik. Program perawatan harus dibuat secara lengkap dan teperinci menurut spesifikasi yang diperlukan, seperti adanya jadwal harian, mingguan, bulanan, tiap tiga bulan, tiap setengah tahun, setiap tahun dan sebagainya. Suatu contoh bagan untuk jadwal perawatan preventif bisa dilihat pada gambar 1.

d. Pencatatan dan Analisis

Catatan-catatan yang perlu dibuat untuk membantu kelancaran pekerjaan perawatan ini adalah: buku manual operasi, manual instruksi perawatan, kartu riwayat mesin, daftar permintaan suku cadang, kartu inspeksi, catatan kegiatan harian, dan catatan kerusakan, dan lain-lain. Catatan-catatan ini akan banyak membantu dalam menentukan perencanaan dan keputusan-keputusan yang akan diambil.

Analisis yang dibuat berdasarkan catatan-catatan tersebut akan membantu dalam hal: melakukan pencegahan kerusakan daripada memperbaiki kerusakan yang terjadi, mengetahui tingkat kehandalan mesin, menentukan umur mesin, memperkirakan kerusakan mesin dan merencanakan untuk memperbaikinya sebelum terjadi kerusakan, menentukan frekuensi pelaksanaan inspeksi, dan menentukan untuk pembelian mesin yang lebih baik dan cocok berdasarkan pengalaman masa lalu.

3. Prosedur Pelaksanaan Perawatan

Pekerjaan perawatan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan dari berbagai faktor yang aman dan menguntungkan. Berikut ini adalah suatu contoh prosedur yang dapat dipakai untuk melakukan perawatan peralatan laboratorium.

Perawatan harian dapat dilakukan oleh teknisi/laborannya sendiri. Sebelum mulai bekerja pada peralatan, terlebih dahulu teknisi/laboran melakukan pembersihan dan pelumasan terhadap peralatan yang akan dipakainya. Untuk pelaksanaan ini, laboratorium mengeluarkan instruksi yang ditujukan kepada para teknisi/laboran untuk melakukan perawatan peralatan. Instruksi ini harus ditaati dengan sungguh-sungguh.

Sedangkan pelaksanaan perawatan periodiknya, bisa ditangani oleh tenaga perawatan yang sudah dilatih secara khusus untuk tugas tersebut. Periode waktu perawatan ini perlu ditentukan berdasarkan pengalaman terdahulu untuk mempercepat keterangannya. Dalam hal ini instruksi pengoperasian mesin harus diikuti dengan benar oleh teknisi/laboran. Adanya kejadian yang tidak normal atau kelainan-kelainan yang timbul pada mesin dengan segera dilaporkan kepada tenaga perawatan agar gangguan dapat cepat diatasi. Tindakan perbaikan harus segera dilakukan, jangan sampai menunda waktu.

Cara atau metode untuk melakukan pekerjaan perawatan peralatan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain dengan cara: (1) melakukan pencegahan, misalnya dengan memberi peringatan melalui gambar atau tulisan, peraturan, tata tertib bagi pengguna laboratorium, dan memberi bahan pengawet, (2) menyimpan, misalnya menyimpan peralatan laboratorium agar terhindar dari kerusakan, (3) membersihkan, agar peralatan laboratorium selalu bersih dari kotoran yang dapat merusak, misalnya debu dan uap air yang dapat menyebabkan terjadinya korosi, (4) memelihara, misalnya dengan melumasi peralatan mekanis, dan memberi makan hewan percobaan, (5) memeriksa atau mengecek kondisi peralatan laboratorium untuk mengetahui adanya gejala kerusakan, (6) menyetel kembali atau tune-up, kalibrasi alat agar fasilitas atau peralatan dalam kondisi normal atau standar, (7) memperbaiki kerusakan ringan yang terjadi pada peralatan laboratorium pada batas tingkat kerusakan tertentu yang masih mungkin dapat diperbaiki sendiri, sehingga siap dipakai untuk praktikum siswa, dan (8) mengganti komponen-komponen peralatan laboratorium yang sudah rusak.

Waktu untuk perawatan peralatan laboratorium dapat dilihat dari tersedianya kesempatan atau waktu bagi pihak yang dilibatkan dalam kegiatan perawatan dan pemanfaatan kesempatan tersebut secara efektif dan efisien untuk melaksanakan kegiatan perawatan.

Dari sisi obyek yang dirawat, jadwal pelaksanaan pekerjaan perawatan laboratorium dapat ditetapkan berdasarkan pada: (1) Berdasarkan pengalaman lalu dalam suatu jenis pekerjaan perawatan alat yang sama. Diperoleh pengalaman mengenai selang waktu atau frekuensi untuk melakukan perawatan seminimal mungkin dan seekonomis mungkin tanpa menimbulkan resiko kerusakan alat tersebut. Bagi laboran/teknisi yang telah berpengalaman dalam melakukan tugas perawatan peralatan laboratorium akan banyak memiliki informasi untuk membantu dalam menyusun jadwal perawatan, (2) Berdasarkan sifat operasi atau beban pemakaian atau penggunaan peralatan laboratorium. Untuk obyek atau alat yang sering digunakan pada kegiatan praktikum dan pemakainya banyak orang, maka obyek atau alat tersebut akan cepat kotor atau rusak. Untuk menjaga agar tetap bersih dan menghindari kerusakan, mestinya jadwal perawatannya harus dibuat tinggi frekuensinya yang berarti obyek atau alat tersebut harus sering dilakukan perawatan.

Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat peralatan yang dimiliki laboratorium. Peralatan laboratorium yang baru dibeli dari pabrik biasanya dilengkapi dengan buku manual yang memuat petunjuk operasi dan cara serta jadwal perawatan alat tersebut. Informasi tersebut dapat dipakai sebagai rujukan dalam menyusun jadwal perawatan.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian yang dipaparkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Kegiatan-kegiatan yang yang dapat dilakukan untuk pemeliharaan peralatan laboratorium di perguruan tinggi, antara lain: (1) inspeksi meliputi kegiatan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala, (2) kegiatan teknik, meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli, dan kegiatan-kegiatan pengembangan peralatan atau kompnen peralatan yang perlu diganti, serta melakukan penelitian-penelitian terhadap kemungkinan pengembangan tersebut, (3) Kegiatan produksi, kegiatan produksi ini merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya, yaitu memperbaiki dan mereparasi peralatan, (4) Kegiatan administrasi, pekerjaan administrasi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan-pencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan perkerjaan-pekerjaan pemeliharaan dan biaya-biaya yang berhubungan dengan kegiatan pemeliharaan, komponen yang dibutuhkan, laporan kemajuan tentang apa yang telah dikerjakan, waktu dilakukannya inspeksi dan perbaikan, serta lamanya perbaikannya tersebut, dan komponen yang tersedia di bagian pemeliharaan. Jadi dalam pencatatan ini termasuk penyusunan planing dan scheduling, yaitu rencana kapan suatu mesin harus di cek atau di periksa, di minyaki dan di reparasi

Faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain sistem pemeliharaan peralatan, antara lain ruang lingkup pekerjaan, lokasi pekerjaan, prioritas pekerjaan, metode yang digunakan, kebutuhan material, kebutuhan keahlian, kebutuhan tenaga kerja.

Cara atau metode untuk melakukan pekerjaan perawatan peralatan laboratorium yang dapat dilakukan antara lain: (1) melakukan pencegahan, dengan memberi peringatan melalui gambar atau tulisan, peraturan, tata tertib bagi pengguna laboratorium, dan memberi bahan pengawet, (2) menyimpan peralatan laboratorium agar terhindar dari kerusakan, (3) membersihkan, agar peralatan laboratorium selalu bersih, (4) melumasi peralatan mekanis, (5) memeriksa atau mengecek kondisi peralatan laboratorium untuk mengetahui adanya gejala kerusakan, (6) menyetel kembali atau tune-up, kalibrasi alat agar fasilitas atau peralatan dalam kondisi normal atau standar, (7) memperbaiki kerusakan ringan yang terjadi pada peralatan laboratorium, dan (8) mengganti komponen-komponen peralatan laboratorium yang sudah rusak.


DAFTAR PUSTAKA

Aldila S.. 2008. Perbaikan Manajemen Pemeliharaan Sebagai Langkah Mencapai ISO 9001:2000. Artikel. Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik industri Universitas Gunadarma

Anonim, 2011. Panduan Teknis Perawatan Peralatan Laboratorium Biologi. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud. Jakarta.

Daryanto. 2010. Keselamatan Kerja Peralatan Bengkel dan Perawatan Mesin. Bandung: Alfabeta.

Heizer, Jay and Render, Barry, 2010, Manajemen Operasi, buku 2, edisi 9 Salemba Empat, Pearson Edition.

Koesmawan A. Sobandi dan Sobarsih Kosasih 2014. Manajemen Operasi Bagian Kedua, Mitra Wacana Media, Jakarta.

Manahan P. Tampubolon. 2014. Manajemen Operasi dan Rantai Pemasok, edisi pertama, Mitra Wacana Media, Jakarta.

Muhtadi, M.Z.Z., 2009. Manajemen Pemeliharaan Untuk Optimalisasi Laba Perusahaan. Jurnal Pendidikan dan kuntasi Indonesia. Vol. VIII No. 1 Tahun 2009. Hal 35 – 43.

Sumartono, G., 2012. Revitalisasi Dan Pemeliharaan Peralatan Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif. Jurnal. Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 . Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN. ISSN 0852-2979.

Prasetya., S.S. 2017. Pengelolaan Laboratorium di Perguruan. Jurnal: Bahari Jogja, Volume XV Nomor 25, Juli 2017.

Comments

Popular posts from this blog

DENYUT NADI DAN TEKANAN DARAH METODE PALPASI – AUSKULTASI

PROSES PEMBUATAN HERBARIUM

PROSEDUR DASAR OBSERVASI UNTUK MIKROSKOP